Sinergi Vokasi-UMKM: Konsep Laboratorium Nyata untuk Siswa Pemasaran Malalui Proyek Riil

By Admin


Seminar Nasional Online bertajuk “Marketing Future Skills 2030”

nusakini.com, Jakarta — Kurikulum pendidikan pemasaran di tingkat vokasi dinilai memerlukan transformasi mendasar demi menyesuaikan diri dengan masifikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi industri. Kesenjangan kompetensi dinilai rawan melebar jika metode pengajaran masih bertahan pada pendekatan teoretis konvensional.

Dalam Seminar Nasional Online bertajuk “Marketing Future Skills 2030” yang berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026, praktisi vokasi nasional Ahmad Madani menyatakan bahwa model pengajaran promosi tradisional sudah tidak lagi memadai untuk membekali siswa. Menurut analisisnya, dunia kerja pada tahun 2030 akan didominasi oleh ekosistem digital eksponensial yang mencakup live commerce hingga optimalisasi mesin pencari berbasis generatif.

"Pertanyaan terpenting bagi guru pemasaran hari ini adalah apakah yang kita ajarkan sekarang masih akan relevan ketika siswa memasuki dunia kerja tahun 2030," ujar Ahmad dalam seminar yang diinisiasi oleh e-guru.id bersama Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI) tersebut, Kamis (25/6/2026).

Ahmad, yang juga menjabat sebagai Co-Founder AGMARI dan Sekretaris Jenderal Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), menekankan pentingnya menggeser status siswa dari sekadar pengguna pasif teknologi (digital native) menjadi pengguna produktif (digital smart). Berdasarkan pemantauannya di sejumlah institusi pendidikan, banyak peserta didik mahir bersosial media namun belum memahami cara mengonversi aktivitas digital menjadi nilai ekonomi atau solusi bisnis terukur.




Guna menjembatani jarak antara ruang kelas dan kebutuhan industri, seminar tersebut merekomendasikan lima kompetensi utama yang harus diintegrasikan ke dalam pembelajaran formal. Kelima aspek tersebut meliputi literasi AI, kemampuan membangun narasi (storytelling), analisis data, etika pemasaran, serta daya adaptasi pendidik maupun peserta didik.

Selain penguasaan materi, Ahmad menawarkan taktik praktis berupa konsep SMK Creative Agency. Melalui skema ini, sekolah berfungsi sebagai laboratorium hidup tempat siswa mengelola kampanye digital, dokumentasi produk, hingga aktivitas live selling untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lingkungan sekolah. Langkah ini dinilai dapat memberikan portofolio riil bagi lulusan sebelum terserap pasar kerja.

Di hadapan para kepala program keahlian dan guru vokasi yang hadir secara virtual, Ahmad menegaskan bahwa masa depan pendidikan kejuruan akan sangat bergantung pada keberanian tenaga pendidik untuk melakukan pemutakhiran keterampilan (upskilling) secara berkala serta meninggalkan pola hafalan demi beralih ke pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). (*)